Dulu, salah satu bagian paling menegangkan dari pembagian rapor bukanlah nilainya, melainkan satu angka kecil di sudut halaman yang menunjukkan urutan seseorang di kelas. slot gacor Angka itu menentukan siapa yang dipuji di rumah, siapa yang diminta belajar lebih keras, dan diam diam menentukan bagaimana anak anak memandang satu sama lain. Dalam beberapa tahun terakhir, banyak sekolah mulai menghapus atau menyembunyikan peringkat kelas dari rapor. Perubahan ini terlihat kecil, tapi menyentuh pertanyaan cukup dalam tentang untuk apa sebenarnya penilaian dilakukan.
Apa yang Sebenarnya Diukur oleh Peringkat
Perlu dibedakan dua jenis informasi. Yang pertama adalah seberapa jauh seorang murid sudah menguasai materi tertentu. Yang kedua adalah bagaimana posisinya dibanding murid lain di kelas yang sama. Keduanya sering dianggap sama, padahal sangat berbeda.
Peringkat hanya memberi informasi jenis kedua. Ia tidak mengatakan apapun tentang penguasaan materi secara mutlak. Murid peringkat pertama di kelas yang seluruh anggotanya kesulitan bisa jadi menguasai jauh lebih sedikit dibanding murid peringkat kedua puluh di kelas yang sangat kuat. Ketika peringkat menjadi ukuran utama, informasi tentang penguasaan materi justru tertutup.
Ada konsekuensi lain yang jarang disadari. Karena jumlah posisi selalu tetap sebanyak jumlah murid, kemajuan seluruh kelas tidak akan pernah terlihat dari peringkat. Kalau semua murid meningkat pesat, urutan barisannya bisa tetap sama. Peringkat, dengan sifatnya, memaksa selalu ada yang di bawah.
Alasan Peringkat Bertahan Begitu Lama
Meski begitu, peringkat tidak bertahan berpuluh tahun tanpa alasan. Ia sangat mudah dipahami. Satu angka langsung memberi gambaran kasar tanpa perlu membaca uraian panjang. Bagi orang tua yang tidak punya waktu menelaah rincian nilai per mata pelajaran, angka itu terasa informatif.
Peringkat juga berguna untuk keperluan seleksi. Ketika sebuah sekolah atau beasiswa harus memilih sejumlah kecil orang dari banyak pelamar, urutan relatif adalah informasi yang langsung bisa dipakai. Menghapus peringkat sepenuhnya menciptakan masalah praktis bagi pihak yang memang butuh membandingkan.
Dan ada alasan yang lebih jarang diucapkan, yaitu peringkat menciptakan motivasi bagi sebagian murid. Kompetisi memang mendorong sebagian orang untuk berusaha lebih keras. Menyangkal hal ini akan sama tidak jujurnya dengan mengabaikan sisi buruknya.
Sisi yang Membuat Banyak Sekolah Mundur
Persoalannya, motivasi dari peringkat bekerja sangat tidak merata. Murid yang berada di kelompok atas mendapat dorongan untuk mempertahankan posisi. Murid yang berada di kelompok bawah, terutama yang bertahun tahun selalu di posisi yang sama, cenderung menarik kesimpulan berbeda, yaitu bahwa usaha tidak mengubah apapun. Kesimpulan semacam ini jauh lebih merusak daripada kurangnya motivasi, karena ia menyentuh keyakinan seseorang tentang kemampuannya sendiri.
Ada juga efek terhadap hubungan antar murid. Ketika posisi bersifat relatif, keberhasilan orang lain otomatis merugikan posisi sendiri. Ini menciptakan insentif yang aneh, misalnya menahan diri membantu teman atau merasa senang ketika teman gagal. Sekolah yang sekaligus ingin mengajarkan kerja sama menghadapi kontradiksi yang cukup tajam di sini.
Apa yang Menggantikannya
Sekolah yang menghapus peringkat biasanya menggantinya dengan deskripsi capaian. Alih alih menyebut posisi, rapor menjelaskan apa yang sudah dikuasai murid dan apa yang belum, kadang dengan contoh konkret dari pekerjaannya. Model ini memberi informasi yang jauh lebih berguna untuk perbaikan, karena menunjukkan arah, bukan hanya posisi.
Kelemahannya juga nyata. Deskripsi butuh waktu lama untuk ditulis, dan kalau jumlah muridnya banyak, hasilnya sering berubah menjadi kalimat baku yang ditempel ke semua orang dengan sedikit perubahan. Dalam kondisi seperti itu, deskripsi kehilangan keunggulannya dan justru lebih membingungkan dibanding satu angka.
Beberapa sekolah memilih jalan tengah, yaitu tetap menghitung peringkat untuk keperluan internal dan seleksi, tapi tidak menampilkannya di rapor yang dibaca murid dan orang tua. Pendekatan ini menyelesaikan sebagian masalah, meski menimbulkan pertanyaan tersendiri soal keterbukaan informasi.
Peran Orang Tua yang Sering Menentukan
Satu hal yang sering menggagalkan penghapusan peringkat adalah kebiasaan di rumah. Banyak orang tua yang tumbuh dengan sistem peringkat merasa kehilangan pegangan ketika angka itu tidak ada, lalu bertanya langsung kepada anak atau guru soal posisi di kelas. Kalau perbandingan tetap terjadi di rumah, penghapusan di rapor hanya memindahkan tempat kejadiannya.
Karena itu perubahan semacam ini biasanya butuh penjelasan yang cukup panjang kepada orang tua, bukan sekadar keputusan administratif dari pihak sekolah.
Penutup
Menghapus peringkat kelas bukan soal menghindari kompetisi atau memanjakan murid, melainkan soal memilih informasi apa yang paling berguna untuk membantu seseorang belajar. Angka posisi memberi kejelasan yang menyenangkan tapi menyembunyikan hampir semua hal yang penting, sementara deskripsi capaian memberi arah tapi menuntut kerja jauh lebih banyak. Pilihan di antara keduanya akhirnya bergantung pada apa yang ingin dicapai sebuah sekolah lewat penilaian, dan pertanyaan itu ternyata tidak sesederhana kelihatannya.
